My Photo

September 2007

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
            1
2 3 4 5 6 7 8
9 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30            
Powered by Friendster Blogs
Member since 09/2005

September 07, 2007

Betapa Indahnya Berumah Tangga

Oleh : Ameeratul Jannah

Baitijannati. Ketika melihat pasangan yang baru menikah, saya suka tersenyum. Bukan apa-apa, saya hanya ikut merasakan kebahagiaan yang berbinar spontan dari wajah-wajah syahdu mereka. Tangan yang saling berkaitan ketika berjalan, tatapan-tatapan penuh makna, bahkan sirat keengganan saat hendak berpisah. Seorang sahabat yang tadinya mahal tersenyum, setelah menikah senyumnya selalu saja mengembang. Ketika saya tanyakan mengapa, singkat dia berujar “Menikahlah! Nanti juga tahu
sendiri”. Aih…

Menikah adalah sunnah terbaik dari sunnah yang baik itu yang saya baca dalam sebuah buku pernikahan. Jadi ketika seseorang menikah, sungguh ia telah menjalankan sebuah sunnah yang di sukai Nabi. Dalam buku tersebut dikatakan bahwa Allah hanya menyebut nabi-nabi yang menikah dalam kitab-Nya. Hal ini menunjukkan betapa Allah menunjukkan keutamaan pernikahan. Dalam firmannya, “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan Dia menjadikan rasa kasih sayang diantaramu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kalian yang berfikir.” (QS. Ar-Rum: 21).

Menikah itu Subhanallah indah, kata Almarhum ayah saya dan hanya bisa dirasakan oleh yang sudah menjalaninya. Ketika sudah menikah, semuanya menjadi begitu jelas, alur ibadah suami dan istri. Beliau mengibaratkan ketika seseorang baru menikah dunia menjadi terang benderang, saat itu kicauan burung terdengar begitu merdu. Sepoi angin dimaknai begitu dalam, makanan yang terhidang selalu saja disantap lezat. Mendung di langit bukan masalah besar. Seolah dunia milik mereka saja, mengapa? karena semuanya dinikmati berdua. Hidup seperti seolah baru dimulai, sejarah keluarga baru saja disusun.

Namun sayang tambahnya, semua itu lambat laun menguap ke angkasa membumbung atau raib ditelan dalamnya bumi. Entahlah saat itu cinta mereka berpendar ke mana. Seiring detik yang berloncatan, seolah cinta mereka juga. Banyak dari pasangan yang akhirnya tidak sampai ke tujuan, tak terhitung pasangan yang terburai kehilangan pegangan, selanjutnya perahu mereka karam sebelum sempat berlabuh di tepian. Bercerai, sebuah amalan yang diperbolehkan tapi sangat dibenci Allah.

Ketika Allah menjalinkan perasaan cinta diantara suami istri, sungguh itu adalah anugerah bertubi yang harus disyukuri. Karena cinta istri kepada suami berbuah ketaatan untuk selalu menjaga kehormatan diri dan keluarga. Dan cinta suami kepada istri menetaskan keinginan melindungi dan membimbingnya sepenuh hati. Lanjutnya kemudian.

Saya jadi ingat, saat itu seorang istri memarahi suaminya habis-habisan, saya yang berada di sana merasa iba melihat sang suami yang terdiam. Padahal ia baru saja pulang kantor, peluh masih membasah, kesegaran pada saat pergi sama sekali tidak nampak, kelelahan begitu lekat di wajah. Hanya karena masalah kecil, emosi istri meledak begitu hebat. Saya kira akan terjadi “perang” hingga bermaksud mengajak anak-anak main di belakang. Tapi ternyata di luar dugaan, suami malah mendaratkan sun sayang penuh mesra di kening sang istri. Istrinya yang sedang berapi-api pun padam, senyum malu-malunya mengembang kemudian dan merdu uaranya bertutur “Maafkan Mama ya Pa..”. Gegas ia raih tangan suami dan
mendekatkannya juga ke kening, rutinitasnya setiap kali suaminya datang.

Jauh setelah kejadian itu, saya bertanya pada sang suami kenapa ia berbuat demikian. “Saya mencintainya, karena ia istri yang dianugerahkan Allah, karena ia ibu dari anak-anak. Yah karena saya mencintainya” demikian jawabannya.

Ibn Qayyim Al-Jauziah seorang ulama besar, menyebutkan bahwa cinta mempunyai tanda-tanda. Pertama, ketika mereka saling mencintai maka sekali saja mereka tidak akan pernah saling mengkhianati, Mereka akan saling setia senantiasa, memberikan semua komitmen mereka.
Kedua, ketika seseorang mencintai, maka dia akan mengutamakan yang dicintainya, seorang istri akan mengutamakan suami dalam keluarga, dan seorang suami tentu saja akan mengutamakan istri dalam hal perlindungan dan nafkahnya. Mereka akan sama-sama saling mengutamakan, tidak ada yang merasa superior.
Ketiga, ketika mereka saling mencintai maka sedetikpun mereka tidak akan mau berpisah, lubuk hatinya selalu saling terpaut. Meskipun secara fisik berjauhan, hati mereka seolah selalu tersambung. Ada do’a istrinya agar suami selamat dalam perjalanan dan memperoleh sukses dalam pekerjaan. Ada tengadah jemari istri kepada Allahi supaya suami selalu dalam perlindunganNya, tidak tergelincir. Juga ada ingatan suami yang sedang membanting tulang meraup nafkah halal kepada istri tercinta, sedang apakah gerangan Istrinya, lebih semangatlah ia.

Saudaraku, ketika segala sesuatunya berjalan begitu rumit dalam sebuah rumah tangga, saat-saat cinta tidak lagi menggunung dan menghilang seiring persoalan yang datang silih berganti. Perkenankan saya mengingatkan lagi sebuah hadist nabi. Ada baiknya para istri dan suami menyelami bulir-bulir nasehat berharga dari Nabi Muhammad. Salah satu wasiat Rasulullah yang diucapkannya pada saat-saat terakhir kehidupannya dalam peristiwa haji wada’:

“Barang siapa -diantara para suami- bersabar atas perilaku buruk dari istrinya, maka Allah akan memberinya pahala seperti yang Allah berikan kepada Ayyub atas kesabarannya menanggung penderitaan. Dan barang siapa -diantara para istri- bersabar atas perilaku buruk suaminya, maka Allah akan memberinya pahala seperti yang Allah berikan kepada Asiah, istri fir’aun” (HR Nasa-iy dan Ibnu Majah ).

Kepada saudaraku yang baru saja menggenapkan setengah dien, Tak ada salahnya juga untuk saudaraku yang sudah lama mencicipi asam garamnya pernikahan, Patrikan firman Allah dalam ingatan : “…Mereka (para istri) adalah pakaian bagi kalian (para suami) dan kalian adalah pakaian bagi mereka…” (QS. Al-Baqarah:187)

Torehkan hadist ini dalam benak : “Sesungguhnya ketika seorang suami memperhatikan istrinya dan begitu pula dengan istrinya, maka Allah memperhatikan mereka dengan penuh rahmat, manakala suaminya rengkuh telapak tangan istrinya dengan mesra, berguguranlah dosa-dosa suami istri itu dari sela jemarinya” (Diriwayatkan Maisarah bin Ali dari Ar-Rafi’ dari Abu Sa’id Alkhudzri r.a)

Kepada sahabat yang baru saja membingkai sebuah keluarga, Kepada para pasutri yang usia rumah tangganya tidak lagi seumur jagung, Ingatlah ketika suami mengharapkan istri berperilaku seperti Khadijah istri Nabi, maka suami juga harus meniru perlakukan Nabi Muhammad kepada para Istrinya. Begitu juga sebaliknya.

Perempuan yang paling mempesona adalah istri yang shalehah, istri yang ketika suami memandangnya pasti menyejukkan mata, ketika suaminya menuntunnya kepada kebaikan maka dengan sepenuh hati dia akan mentaatinya, jua tatkala suami pergi maka dia akan amanah menjaga harta dan kehormatannya. Istri yang tidak silau dengan gemerlap dunia melainkan istri yang selalu bergegas merengkuh setiap kemilau ridha suami.

Lelaki yang berpredikat lelaki terbaik adalah suami yang memuliakan istrinya. Suami yang selalu dan selalu mengukirkan senyuman di wajah istrinya. Suami yang menjadi qawwam istrinya. Suami yang begitu tangguh mencarikan nafkah halal untuk keluarga. Suami yang tak lelah berlemah lembut mengingatkan kesalahan istrinya. Suami yang menjadi seorang nahkoda kapal keluarga, mengarungi samudera agar selamat menuju tepian hakiki “Surga”. Dia memegang teguh firman Allah, “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6)

Akhirya, semuanya mudah-mudah tetap berjalan dengan semestinya. Semua berlaku sama seperti permulaan. Tidak kurang, tidak juga berlebihan.Meski riak-riak gelombang mengombang-ambing perahu yang sedang dikayuh, atau karang begitu gigih berdiri menghalangi biduk untuk sampai ketepian. Karakter suami istri demikian, Insya Allah dapat melaluinya dengan hasil baik. Sehingga setiap butir hari yang bergulir akan tetap indah, fajar di ufuk selalu saja tampak merekah. Keduanya menghiasi masa dengan kesyukuran, keduanya berbahtera dengan bekal cinta. Sama seperti syair yang digaungkan Gibran,

Bangun di fajar subuh dengan hati seringan awan
Mensyukuri hari baru penuh sinar kecintaan
Istirahat di terik siang merenungkan puncak getaran cinta
Pulang di kala senja dengan syukur penuh di rongga dada
Kemudian terlena dengan doa bagi yang tercinta dalam sanubari
Dan sebuah nyanyian kesyukuran tersungging di bibir senyuman

Semoga Allah selalu menghimpunkan kalian (yang saling mencintai karena Allah dalam ikatan halal pernikahan) dalam kebaikan. Mudah-mudahan Allah yang maha lembut melimpahkan kepada kalian bening saripati cinta, cinta yang menghangati nafas keluarga, cinta yang menyelamatkan. Semoga Allah memampukan kalian membingkai keluarga sakinah, mawaddah, warrahmah.

Semoga Allah mematrikan helai keikhlasan di setiap gerak dalam keluarga. Jua Allah yang maha menetapkan, mengekalkan ikatan pernikahan tidak hanya di dunia yang serba fana tapi sampai ke sana, the real world “Akhirat”. Mudah-mudahan kalian selamat mendayung sampai ketepian.
Allahumma Aamiin.

Barakallahu, untuk para pengantin muda. Mudah-mudahan saya mampu mengikuti tapak kalian yang begitu berani mengambil sebuah keputusan besar, yang begitu nyata menandakan ketaqwaan kepada Allah serta ketaatan kepada sunnah Rasul Pilihan. Mudah-mudahan jika giliran saya tiba, tak perlu lagi saya bertanya mengapa teman saya menjadi begitu murah senyum. Karena mungkin saya sudah mampu menemukan jawabannya sendiri. (www.baitijannati.wordpress.com)
__________________
Do people think that they will be left alone because they say:”We beleive,” and will not be tested.(TQS Al-Ankabut:2)

Sumber : prayoga.net

                            

March 08, 2007

Bebalkah Hati Kita???

"Maaf, Pak, bisa geser sedikit?" Seorang pemuda meminta kursi kepada seorang penumpang yang lebih dulu duduk di bangku yang diset untuk dua orang. Penumpang pertama, seorang bapak, nampaknya sudah duduk sejak awal sebelum pemuda ini naik.

Bapak itu menggeser tubuhnya dengan enggan, bahkan sepertinya ia nampak kecut. Ia memandang si pemuda yang meminta tempat tersebut dengan separuh mata. Padahal ia tahu, bahwa kursi bus itu untuk dua orang. Mengapa ia berniat untuk mengukuhi sendiri? Badannya yang tambun bukan berarti ia harus memonopoli tempat, kecuali jika dia membayar untuk dua kursi, mungkin ini urursanya lain, walau tak sepenuhnya benar.

Sempat saya membayangkan, jika bapak itu menjawab, "Oya, mangga, silakan!" Kemudian ia menggeser tubuhnya tanpa ragu sehinga penumpang yang lain mendapat tempat duduk yang sama dengannya. Lebih lanjut, seandainya si bapak bertanya –walau mungkin untuk basa-basi– dengan muka yang senyum, "Mau ke mana, Dhe?"

Saya kira, melakukan hal tersebut tidaklah sulit. Kehangatan itu akan membuat penumpang yang disapa merasa lebih nyaman duduk di sampingnya.

***

Kita sering menemukan muka-muka yang kaku melenggang di jalan atau di keramaian. Kita juga menemukan kedzaliman-kedzaliman yang tidak disadari seperti contoh di atas.

Seorang ibu yang dompetnya banyak receh, tiba-tiba tertidur manakala melihat ada pengamen kecil naik bis yang sedang ia tumpangi. Kupahami, tindakan seperti itu bukan semata-mata karena tidak ingin memberi, tapi sudah jelas-jelas merasa jijik dengan kedatangan pengamen itu.

Saudaraku, untuk apa harta yang sedikit itu kita kukuhi sendiri, sedang membelanjakannya dalam amal akan melipatgandakannya? Jangan sampai karena harta, hati kita menjadi keras, tak pernah gemetar bila mendapat kesempatan untuk berbuat baik.

Sesungguhnya harta kita adalah harta yang telah kita belanjakan di jalan Allah, dan sesungguhnya rejeki kita adalah apa yang telah masuk ke dalam perut. Kalau sudah masuk tapi itu bukan rejeki kita, sesuatu itupun akan dimuntahkan kembali.

***

Seorang teman pernah tersinggung ketika ada yang menyuruhnya untuk shalat. "Shalat gak shalat adalah urusanku!" Astaghfirullah. Hati yang membatu akan sangat sulit menerima sentuhan Illahiyah. Bila datang kepadanya sebuah kebenaran, sama sekali hatinya tak berdesir.

Kebenaran, saudaraku, jika boleh bertutur, tidak selalu datang dari orang yang lebih pandai, ustadz, atau ulama. Tapi terkadang ia datang dari orang yang kita anggap –mungkin– polos dan rendah. Jika adik kita menunjukkan kebaikan dan kita tersinggung karena merasa digurui, maka hati-hatilah. Terkadang penyakit hati hinggap tanpa kita sadari.

***

Tanpa disadari, mungkin kita pernah melakukan hal-hal seperti itu. Merasa kecut bila ada orang yang meminta duduk di sebelah kita, sedang tempat yang tersedia terbatas, pernah merasa terganggu tatkala ada pengamen menemui, pernah merasa tersinggung saat orang yang lebih yunior menyampaikan kebaikan kepada kita.

Mari cepat-cepat kita menyadarinya untuk kemudian tidak melakukan kebodohan yang sama. Mari lembutkan dan lapangkan hati sebisa-bisa melapangkan, jangan sampai kita menyimpan penjara di dalamnya yang kita sendiri tidak menyadari keberadaannya.

Ceriakan hati dan tersenyumlah apabila ada kebaikan yang datang menemui. Berikan kesempatan pada tangan kita untuk bisa melakukan hal yang bermanfaat.


February 26, 2007

Jalan Cahaya


Laksana air di gurun pasir
Sejukkan jiwa yang kehausan
Di sepanjang keruh rapuhnya dunia
ku selalu merindukan belaiMu
ku ingin Kau slalu bertahta dalam kalbuku

Kau hadir di setiap hela nafasku
Hangat alirkan butiran daarahku
Betapa suci dan agung cintaMu
Tak sanggup nalarku memikirkanMu
Ku ingin Kau selalu bertahta dalam bathinku

Bimbinglah aku dalam pelukanMu
Jangan lepaskan lagi
Izinkanlah malaikat menjagaku dari kelamnya nafsu dunia
bawalah aku ke jalan cahaya terang kerajaanMu
Jadikan mimpiku jelas sempurna menyatu dalam istana surga

Kemana kapalmu kan berlabuh
di sana juga kau bermuara
Kemanapun hidupmu kau arahkan
Disanalah dermaga akhirmu
Yakinlah Dia bersemayam dalam hatimu

February 21, 2007

Sebuah Kisah....

Kawan, ada cerita nie. Sore itu, saya dapat kiriman sebuah kisah dari temen satu kantor. Nah sungguh saya benar-benar ketawa banget baca kisah itu. Eit…tapi ndak bermaksud mentertawakan kekonyolan yang terjadi. Nah ada hikmahnya dari kisah itu bahwa kita JANGAN PANIK. Ini jadi pelajaran berharga buat saya. 

Terus ndak lama kemudian, saya forwardkan kisah itu ke temen-temen lainnya. Waa…responnya beda-beda.

Ada yang malah sedih, ada yang kaget, ada tertawa banget dengan komentar “kacau”. Ada yang Cuma senyum, ada pula yang balik nanya “ini nyata apa lelucon”. Pokoknya reaksi temen-temen beda-beda. 

Silahkan bagi yang mau baca kisahnya. 

Adalah seorang pekerja Inggris yang sedang bekerja di lantai 13 sebuah gedung. Tiba-tiba seorang berteriak-teriak, "Alfred.. Alfred... anak perempuanmu Rossie mati krn kecelakaan... Alfred...!" 

Karena panik, orang ini langsung loncat lewat jendela ... dari lantai 13.
Ketika dia hampir mendekati lantai 9, dia baru ingat bahwa dia tidak punya anak perempuan bernama Rossie, setelah dia hampir mendekati lantai 5, dia baru sadar bahwa dia belum menikah.. apalagi punya anak. Dan ketika dia hampir menyentuh tanah.. dia baru sadar bahwa namanya bukanlah Alfred..


Begitulah kisahnya…. Lucukah atau sedih??? Hehe…

 

February 19, 2007

sebait doa kupanjatkan pada Sang Khalik, untuk keluargaku tercinta.

Allah, tolong tetap Engkau sematkan hidayah-Mu di dalam hati hati hamba-Mu ini, di dalam hati bapak ibuku, di dalam hati kakak-kakakku. Tolong jaga kami. Tolong wafatkan kami dalam keadaan iman, Islam dan husnul khotimah. Tolong mudahkan sakaratul maut kami. Tolong ringankan azab kubur kami. Dan tolong kumpulkan kami dengan orang-orang yang mendapat rahmat dan keridhoan-Mu di Padang Mahsyar nanti

Amiin Allahumma Amiin


Sumber : www.eramuslim.com

January 30, 2007

Andai Dia Tahu

Bilakah dia tahu
Apa yang t'lah terjadi
Semenjak hari itu
Hati ini miliknya

Mungkinkah dia jatuh hati
Seperti apa yang ku rasa
Mungkinkah dia jatuh cinta
Seperti apa yang ku damba

Bilakah dia mengerti
Apa yang t'lah terjadi
Hasratku tak tertahan
Tuk dapatkan dirinya

Mungkinkah dia jatuh hati
Seperti apa yang ku rasa
Mungkin kah dia jatuh cinta
Seperti apa yang ku damba

Tuhan yakinkan dia
Tuk jatuh cinta
Hanya untukku
Andai dia tahu...

[Andai Dia Tahu, by - Kahitna]

January 26, 2007

Diantara Dua Kondisi

Sahabat....tahu nggak?? Saat ini saya sedang dihadapkan pada dua kondisi. "Menunggu" ataukah "Melangkah". Subhanallah...kadangkala saat dihadapkan pada dua kondisi itu terasa juga ada kebimbangan :). Hmmm...sepertinya masih manusiawi ya :). Bimbangnya begini....pilihan pertama adalah "menunggu" dan ini masih dalam tahap ketidakpastian, blm mencapai decision yang optimum. Dan jikalau memilih "melangkah" itu pun dalam keraguan karena hati masih luar biasa berat ke pilihan pertama. Saat ini posisiku di tengah-tengah kedua kondisi tersebut. Tapi aku tetap bergerak , aku tetap berusaha dan berdo'a. Dan subhanallah...betapa sulitnya belajar ilmu ikhlas :). Sangat penuh perjuangan tuk bisa ikhlas. Semoga penantian ini mencapai masa yang tepat dan hasil terbaik. Amiin. Ya Rabb, bimbing hamba tuk memilih yang terbaik dalam segala urusan. Jangan biarkan hamba salah dalam melangkah. Amiin Allahumma Amiin.

January 25, 2007

Renungan....

       

Tadi malam, sebelum tidur...saya merenungkan sesuatu hal mengenai nikmat Allah yang begitu melimpah dan kekuasaan Allah yang teramat sangat agung.

Coba rekan2 renungkan begitu luas kasih sayang Allah. Tanpa kita repot, Allah mendetakkan jantung kita, aliran darah yang normal mengalir dalam tubuh kita, Memberikan kita penglihatan,pendengaran, dan segala hal nikmat lainnya. Tapi kenapa masih banyak diantara kita yang jarang mensyukuri nikmat Allah dan karunia-Nya yang begitu melimpah. Semoga Allah selalu memberikan hidayah bagi kita semua. Amiin

Lalu saya pun merenungkan tentang Maha Kuasanya Allah menciptakan manusia yang beraneka ragam suku,ras,warna kulit, bangsa, dan agama. Coba perhatikan sama rekan2 semuanya…bahwa suara manusia tidak ada yang sama seorangpun…padahal di dunia ini begoitu banyak lautan manusia, lalu wajah setiap manusia juga berbeda2, meskipun yang kembar sekalipun..pasti ada perbedaaanya…Subhanallah…Begitu Agung kuasa Allah.

Jadi…nikmat Allah yang mana lagi yang Engkau dustakan…….

Rekan2 semuanya…disinilah kita harus pandai bermuhasabah dan pandai mengambil pelajaran dari setiap apa yang Allah ciptakan. Sesungguhnya segala sesuatu yang Allah ciptakan itu tidak sia-sia. Banyak hikmah yang tersirat untuk kita ambil ibrah.

Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti akan kami tambahkan nikmat kepadamu. Dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. (QS.Ibrahim:7)

Yuk…kita jadikan diri kita sebagai hamba-Nya yang pandai bersyukur.

cheer
-Sri Rahayu Suryadi-

January 22, 2007

Unegh..Unegh...hari ini :)

Sejak kecil saya dibiasain tuk berani minta maaf duluan atas semua kesalahan. Entah itu kesalahan kecil apalagi tuk kesalahan besar. Prinsip saya "Jangan pernah gengsi tuk minta maaf duluan atas kekhilafan".

Terus satu hal, saya lebih terbuka membicarakan langsung hal2 yang ga nyaman dalam suatu silaturahmi. Saya biasakan mengelompokan mana hal2 yang masih dapat ditoleransi dan tidak, mana yang nyaman dan tidak, mana yang perlu tegas atau bisa fleksibel. Intinya komunikasi yang baik dengan saran dan kritik demi kebaikan.

Dan bagi saya, Seni yang paling baik dalam bersilaturahmi adalah banyak-banyak untuk mengingat dan mengakui kekurangan dan kesalahan sendiri.

"Be Your Self" juga salah satu prinsip saya. Karena Diri ini akan sengsara bila selalu menginginkan orang lain menilai lebih dari kenyataan. Jadilah manusia merdeka yang berani tampil apa adanya. Saya baca kutipan nasihat bijak seperti ini " Orang yang sibuk membangun topeng akan selalu dijajah oleh topengnya sendiri. Orang yang membangun pribadi tak gentar kehilangan topeng".

Friends, kita sama2 yuk tuk bisa komitmen dengan prinsip yang membawa kebaikan buat diri pribadi dan orang lain.

Segini dulu ajah deh unegh2 hari ini :D

Ruang Rindu by Letto

Di daun yang ikut mengalir lembut
terbawa sungai ke ujung mata
dan aku mulai takut terbawa cinta
menghirup rindu yang sesakkan dada

jalanku hampa dan kusentuh dia
terasa hangat oh didalam hati
kupegang erat dan kuhalangi waktu
tak urung jua kulihatnya pergi

tak pernah kuragu dan slalu kuingat
kerlingan matamu dan sentuhan hangat
ku saat itu takut mencari makna
tumbuhkan rasa yg sesakkan dada

(*)
kau datang dan pergi oh begitu saja
smua kutrima apa adanya
mata terpejam dan hati menggumam
di ruang rindu kita bertemu ..

bertemu

Jenuh

Ternyata hati, tak bisa berdusta
Meski ku coba, tetap tak bisa
Dulu cintaku, banyak padamu
Entah mengapa, kini berkurang

Maaf, aku jenuh padamu
Lama sudah kupendam
Tertahan dibibirku
Mauku tak menyakiti
Meski begitu indah
Ku masih tetap saja…. jenuh ….

Taukah kini, kau kuhindari
Merasakah kau, ku lain padamu
Kini Temukan, hanya cinta saja
Sementara kau, merasa cukup

January 18, 2007

Complicated

Kawan...
Tahu nggak...akhir2 ini saya sering banget sakit kepala. Setiap ada beban pikiran ..pasti larinya ke sakit kepala. Sampai2 sakiiit banget itu kepala. Meski ga pernah berhari2 larut dalam hal yang difikirkan...tapi cukup terasa terganggu juga disaat sakit kepala itu muncul.

Hmmm...astaghfirullah...rasanya ada yang aneh dalam diri ini. Rasanya ada yang berubah dalam menyikapi masalah. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan masalah. Yang salah adalah ketika kita salah dalam menyikapi suatu masalahnya.

saya harus semangat. saya harus tenang. Kurangi rasa panik!!!. Tenang..tenang...berfikir yang jernih.....

December 26, 2006

Bercermin dengan Aib Sendiri

"Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya. Apabila melihat aib padanya, dia segera memperbaikinya." (HR. Bukhari).

Indahnya nikmat keimanan, hati yang semula gelap menjadi terang, bahaya dan penyakit di sekitar diri yang sebelumnya tertutupi bisa terlihat jelas. Kini tampak mana yang baik dan yang buruk, dalam hal apapun, termasuk dalam pergaulan dan persaudaraan Islam, tak ada manusia yang lebih sempurna.

Saat ini, tak ada manusia yang serba sempurna dalam segala hal, selalu saja ada kekurangan. Boleh jadi ada yang bagus dalam rupa, tapi ada yang kekurangan dalam gaya bicara. Bagus dalam menguasai ilmu, tapi tidak mampu menguasai emosi kalau ada saingan. Kuat di satu sisi, tetapi rentan di sudut yang lain.

Dari situlah, seorang mukmin musti cermat mengukur timbangan penilaian terhadap seseorang. Apa kekurangan dan kesalahannya, kenapa bisa begitu, dan seterusnya. Seperti apapun orang yang sedang dinilai, keadilan tak boleh dilupakan, walaupun terhadap orang yang tidak disukai. Yakinlah kalau dibalik keburukan sifat seorang mukmin, pasti ada kebaikan di sisi yang lain. Tidak boleh main "pukul rata" : "Ah, orang seperti itu memang tidak pernah baik!!!"

ALLAH SWT, senantiasa meminta orang orang beriman agar senantiasa bersikap adil, FirmanNYA dalam surat Al-Maidah ayat 8, "Hai orang orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran), karena ALLAH menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap sesuatu kaum mendorong kamu berlaku tidak adil. Berlakulah adil, karena adil itu lebih dekat kepada TAQWA. Dan bertakwalah kepada ALLAH, sesungguhnya ALLAH Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."

Dari timbangan yang adil itulah, penilaian jadi proporsional, tidak serta merta mencap orang itu pasti salah, mungkin ada sebab yang membuat ia lalai, lengah, dan kehilangan kendali. Bahkan boleh jadi, jika pada posisi dan situasi yang sama, kita pun tidak lebih bagus dari orang yang kita nilai.

Kekurangan diri seorang mukmin merupakan ujian mukmin yang lain. Sesama mukmin seperti satu tubuh, ada keterkaitan yang begitu kuat. Sakit di salah satu bagian tubuh, berarti sakit pula di bagian yang lain. Cela pada diri seorang mukmin, berarti cela pula buat mukmin yang lain.

Setidaknya ada dua ujian buat seorang mukmin ketika saudaranya tersangkut aib. Pertama, kesabaran untuk menanggung keburukan secara bersama. Siapa lagi yang layak memberi kritik dan saran kalau bukan saudara sesama mukmin, karena dialah yang lebih paham seperti apa daya tahan keimanan saudaranya sesama mukmin. Sabar senantiasa untuk menegur, mendekati, dan memberi solusi.

Kedua, kesabaran untuk tidak mengabarkan keburukan saudaranya kepada orang lain, ini sulit, karena lidah kerap usil. Selalu saja tergelitik untuk menyampaikan isu-isu baru yang menarik. Tapi sayang, sesuatu yang menarik buat orang lain kadang buruk di mata objek yang dibicarakan.

Di situlah ujian seorang mukmin untuk mampu memilih dan memilah, mana yang perlu dikabarkan dan mana yang tidak. Rasulullah SAW bersabda, "Tidak akan masuk surga orang yang suka mendengar-dengar berita rahasia orang lain." (HR. Bukhari).

Tataplah kekurangan diri sebelum menilai kekurangan orang lain, ego manusia selalu mengatakan kalau "sayalah yang selalu baik dan yang lainnya buruk." Dominasi ego yang seperti inilah yang kerap membuat timbangan penilaian jadi tidak adil. Kesalahan dan kekurangan orang lain begitu jelas, tapi kekurangan diri tak pernah terlihat. Padahal, kalau saja bukan karena anugerah ALLAH berupa tertutupnya aib diri, tentu orang lain pun akan secara jelas menemukan aib kita.

Sebelum memberi reaksi terhadap aib orang lain, lihatlah secara jernih seperti apa mutu diri sendiri. Lebih baikkah atau jangan-jangan lebih buruk. Dari situlah ucapan syukur dan istighfar mengalir dari hati yang paling dalam. Syukur kalau diri ini ternyata lebih baik. Dan istighfar jika terlihat bahwa diri sendiri lebih buruk.

Tatap aib saudara mukmin lain dengan pandangan baik sangka. Mungkin ia terpaksa, mungkin itulah pilihan terburuk dari salah satu pilihan yang terburuk. Mungkin langkah dia jauh lebih baik dari langkah kita, jika berada pada situasi dan kondisi yang sama.

Membuka aib seorang mukmin berarti memperlihatkan aib sendiri, seorang mukmin dengan mukmin lainnya adalah bersaudara. Sebuah persaudaraan yang lebih sakral ketimbang satu ayah satu ibu, karena ALLAH sendiri yang mengatakan kekuatan persaudaraan itu, "Sesungguhnya orang orang beriman itu bersaudara." (QS. 49 : 10).

Ketika seorang mukmin membuka dan menyebarkan aib saudaranya, ada dua kesalahan yang dilakukan sekaligus. Pertama, ada citra keagungan orang-orang beriman yang terkotori, dan reaksi yang muncul memojokkan umat Islam. Kedua, orang yang menyebarkan aib saudaranya, sebenarnya tanpa sadar memperlihatkan jati dirinya yang asli. Antara lain, tidak bisa memegang rahasia, lemah kesetiakawanan, dan penyebar berita bohong. Semakin banyak aib yang ia sebarkan, kian jelas keburukan diri si penyebar.

Benar apa yang di nasehatkan Rasulullah SAW, bahwa diam adalah pilihan terbaik ketika tidak ada bahan ucapan yang baik. Simpanlah aib seorang teman dan saudara sesama mukmin, karena dengan begitu kelak ALLAH SWT akan menutup aib kita di hadapan manusia.

Ya ALLAH, Engkaulah yang mempunyai Kekuasaan, Engkau beri Kekuasaan kepada orang orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuatan dari orang-orang yang Kau kehendaki, Engkau muliakan orang-orang yang Engkau kehendaki. Dan Engkau hinakan orang-orang yang Engkau kehendaki. Di tanganMU lah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu." (QS. Ali-Imran : 26).

Aku Malu, Ya Allah!

Sahabatku..., mungkin kenistaan diri membuat kita malu untuk datang kepada Allah SWT. Usah kau malu! Sedangkan malu terhadap Allah Azza wa Jalla itupun adalah hal yang amat berharga bagimu. Seperti gelar haji yang membuat penyandangnya selalu menjaga perilaku karena malu, maka taubat yang pernah kau jalankan pun akan membawamu merasa malu. Sehingga rasa malu selalu menjadi tameng dirimu untuk tidak lagi mengerjakan perbuatan maksiat.

Dalam sebuah hadits riwayat imam Bukhari, Rasulullah SAW mengisahkan bahwa dulu pernah ada ada seorang ayah yang dikarunia Allah SWT harta yang banyak. Saat ajal menjelang, ia kumpulkan semua anaknya dan ia berwasiat kepada mereka. Ia katakan, "Menurut kalian, Ayah yang bagaimana aku ini?" Anak-anaknya menjawab bahwa dia adalah ayah yang baik.

Terenyuh mendengarnya, ia pun menyadari bahwa dirinya tidak pernah melakukan kebaikan sedikit pun. Lalu ia berpesan bila ia telah mati nanti agar jasadnya dibakar, dan debunya ditebarkan pada hari dimana angin bertiup kencang. Ia bersikap demikian karena ia malu bila bertemu dengan Allah SWT, sementara dirinya nista, penuh dengan dosa!

Lalu anak-anaknya menjalankan wasiat itu dengan baik. Saat debu sang ayah mereka tebarkan pada angin yang bertiup kencang, maka Allah SWT menghimpun kembali serpihan dari debu yang betebaran. Serta-merta Allah SWT berfirman dan kembalilah jasad utuh seperti semula. Kini sang hamba berdiri menggigil ketakutan.

Dalam kepanikan yang dialaminya, Allah SWT bertanya kepadanya, "Mengapa kau lakukan ini semua?!" Di hadapan keagungan Tuhan, sulit sekali lisan berucap dan bibir tergerak. Satu kalimat yang meluncur dari lisannya. "Aku takut padaMu, Tuhan... Aku malu padaMu!" Itu saja yang dapat ia ucapkan. Ia berdiri merinding, menggigil, dan terdiam ketakutan. Karena hal itu, Allah SWT pun memasukkan sang hamba ke dalam rahmatNya. Subhanallah! Rasa malu atas dosa membuat Allah SWT memberi ampunan!

Ketahuilah sahabatku..., dosa dan kesalahan membuat diri kita menjadi malu. Saat mendefinisikan dosa, Rasulullah SAW mengatakan bahwa ia adalah sesuatu yang membuat jiwamu gelisah, dan kau merasa malu bila ada orang yang melihatnya! Demikianlah dosa. Dosa membuat manusia merasa malu. Karenanya, tinggalkanlah!

Diriwayatkan dari Said bin Jubair dari Ibnu Umar sebagai hadits marfu', "Allah mendatangi orang mukmin pada hari kiamat, Dia mendekatinya hingga membuat orang itu tertutup dari pandangan semua makhlukNya. Lalu Allah berkata kepadanya, "Bacalah!" Allah kemudian memberitahukan dosa-dosa orang itu, lalu berkata lagi, "Tahukah kamu dosa ini? Tahukah kamu dosa itu?" Orang itu menjawab, "Ya." Kemudian ia melihat kanan kirinya, Allah berkata lagi, "Tidak perlu cemas hambaKu, kamu berada dalam hijabKu hingga tidak ada seorang pun dapat melihatMu. Tidak ada seorang pun di antara Aku dan engkau pada hari ini yang dapat mengintip dosa-dosamu selain Aku. Aku memberimu ampun atas dosa-dosa itu cukup dengan satu hal dari semua yang telah kau lakukan untukKu. Orang itu berkata, "Apa itu Tuhanku?" Allah menjawab, "Engkau tidak pernah mengharap ampunan selain daripada Aku." (Jami' Al-Ulum wal Hikam, hal. 393).

December 21, 2006

Bundaku

Bunda...
Jauh darimu terasa benar rasa rinduku akanmu
Teringat aku saat-saat ada di dekatmu
Kau curahkan segenap cintamu untuk kami, keluargamu
Dari pagi menjelang hingga malam menutup hari
Tanpa lelah kau layani kami, pengabdian yang tanpa batas

Bunda...
Terkadang di saat penatmu
Masih saja kau sempatkan tuk sekedar mendengar berbagai celotehku
Entah itu tentang kesedihanku atau tentang berbagai sukaku
Dengan penuh perhatian dan penuh kasih,
kau dengar setiap kata yang keluar dari mulutku
Dan dengan penuh bijak kau beri berbagai nasehat,
selayaknya orangtua terhadap anak-anaknya
Terkadang kau tersenyum atau bahkan tertawa jika ada kataku yang lucu
Namun tak jarang pula kau akan menegurku,
bila yang kau dengar hal yang tak sewajarnya

Bunda...
Tak terasa sudah lebih dari 20 tahun kau menemaniku
Walau kadang kita terpisah oleh jarak tempat dimana kita berada
Namun itu tak mengurangi perhatianmu padaku
Dan tak akan pernah pula mengurangi sayangku padamu

Tau kah kau bunda...
Aku selalu kagum padamu
Dengan kesetiaanmu pada suami dan keluargamu
Dengan seluruh cinta yang kau beri pada kami
Dengan tulusnya perhatian dan kasihmu untuk semua
Dengan semua ketabahan, kesabaran, dan keikhlasanmu mendidik kami

Bunda...
Engkau selalu membangunkan kami saat shubuh,
atau memperbaiki letak selimut kami saat kami terlelap di gelapnya malam
Engkau selalu mengingatkan kami agar bersyukur atas semua nikmat-Nya
Dan selalu mengajak kami untuk selalu bangun saat sepertiga malam,
untuk menemui Sang Kekasih Sejati

Bunda...
Salah satu do'aku pada Illahi Rabbi
Agar engkau menjadi salah satu insan yang menghuni jannahNya,
dan dapat menjadi bidadari di dunia serta di akhirat kelak.
Semoga aku pun bisa menjadi sepertimu
Seorang bunda yang penuh cinta, setia, ikhlas dan istiqamah selalu
Aamiin...